animasi-bergerak-agama-religi-0150 animasi-bergerak-selamat-datang-0025 animasi-bergerak-selamat-datang-0025 animasi-bergerak-selamat-datang-0025

Wednesday, October 31, 2012

7 Golongan Manusia yang akan Mendapat naungan Allah

Hidup ini tidak akan bertahan selamanya.Kesenangan didunia tak akan dirasa selamanya.Dan kisah sukses seseorang tidak akan dirasa selamanya.Karena dunia ini tidak akan ada selamanya.Dunia pasti akan berakhir.Dunia pasti akan kiamat.


Kiamat itu sebenarnya sudah sangat dekat karena Allah bisa saja berkehendak besok akan kiamat atau mungkin jika Allah berkehendak,saat ini pun bisa jadi kiamat.Jadi sering-seringlah mengingat kiamat dan kematian.Disaat kiamat dimana saat semuanya sudah hancur,tak ada suara satupun yang terdengar lagi karena takut akan kebesaran Allah.


Kemudian dibangkitkan lagi umat manusia dan dikumpulkan semua manusia disebuah padang yang bernama padang Mahsyar yang panasnya bukan main.Semua manusia telanjang tak berbaju dan merasakan panasnya matahari dalam jarak yang sangat dekat.



Perlindungan pun tak akan ada disana kecuali perlindungan Allah.Mau tahu siapa saja yang akan dilindungi oleh Allah saat kiamat nanti dimana tak akan ada naungan kecuali naungan Allah,berikut 7 golongan manusia yang akan diberi naungan-Nya :

1.Pemimpim yang adil.
2.Pemuda yang senantiasa beribadat kepada Allah semasa hidupnya.
3.Orang yang hatinya senantiasa berpaut pada masjid-masjid.
4.Dua orang yang saling mengasihi karena Allah,keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah.
5.Seorang lelaki yang diundang oleh seorang perempuan yang mempunyai kedudukan dan rupa paras yang cantik untuk melakukan kejahatan tetapi dia berkata "Aku takut kepada Allah".
6.Seorang yang memberi sedekah tetapi dia merahasiakannya seolah-olah tangan kiri tidak tahu apa yang diberikan oleh tangan kanannya.
7.Seorang yang mengingat Allah di waktu sunyi sehingga mengalirlah air mata dari kedua matanya.
( HR Bukhari & Muslim )
Semoga kita termasuk didalam salah satu golongan diatas.


Monday, October 29, 2012

ARTI SEBUAH PERJUANGAN HIDUP

  • Kehidupan adalah suatu perjuangan yang tak pernah ada habisnya,sampai kelak menhadap yang Maha Kuasa,selalu saja ada masalah dan berbagai cobaan yang datang menghiasi warna kehidupan layaknya pelangi yang indah,kata-kata itulah yang selalu tegar dalam menghadapi segala masalah yang datang,meski tak jarang saya juga terjerembab/jatuh dalam keputusasaan,ya,saya selalu yakin kalau kehidupan saya adalah perjuangan,salah satu seorang sahabat saya pernah berkata pada saya,jika kehidupan adalah perjuangan seperti apa yang saya yakini selama ini,maka apa yang ingin saya raih dari perjuangan itu? dan apa yang menjadi tujuan saya ?.........Apakah untuk kebahagiaan dunia,prestasi atau kesuksesan dunia yang membanggakan? tidakkah semua itu merupakan harga yang terlalu kecil untuk membayar perjuangan yang saya lakukan seumur hidup???
  • Maka kemudian saya berpikir,benarkah yang saya yakini selama ini,kalau hidup ini adalah perjuangan??? Hati saya seperti tersenyum ke arah saya,benar katanya.Hifdup memang sebuah perjuangan,dan perjuangan itu adalah JIHAD,namun untuk JIHAD ada satu tujuan,yaitu kembali pada ALLAH dalam keadaan ikhlas,tak ada cinta tak ada kisah kasih kecuali atas dasar cinta  pada-NYA,sudahkah kau lakukan semua itu? tanya hati saya.
  • Belum,kau belum melakukannya,jawab sisi hati saya yang lain,lantas masih bolehkah saya mengatakan kalau hidup saya adalah perjuangan,sementara saya belum pernah menghabiskan waktu dalam hidup saya dengan benar-benar ikhlas karena ALLAH? kali ini desiran darah yang menjawab,tentu saja boleh,justru karena itulah,kehidupan di katakan sebuah perjuangan,perjuangan untuk mencapai sebuah keikhlasan karena ALLAH,semua itu tak dapat engkau raih begitu saja,semuanya butuh pengorbanan dan kesabaran,kau harus terus melatih hatimu,memupuk dan menyiraminya agar keikhlasan dapat kau temukan,keikhlasan tak akan pernah hadir dalam hati yang penuh dengan noda,karena itu berjuanglah agar hatimu bersih.Dan kebersihan hati,kau akan menemukan kecintaan kepada Sang Pemilikmu,lalu dari cinta itulah keikhlasan muncul,ikhlas melakukan apa saja demi cinta pada Sang Khalik.
  • Apakah karena itu ,para mujahid rela berkorban dengan harta,raga bahkan nyawanya,untuk membela ALLAH?? Tanya saya lagi,hembusan saya tertawa mengitari saya,tak seorangpun manusia yang pernah berkorban untuk ALLAH,sayang katanya,karena semua yang ada pada kita,bahkan semua yang ada di jagad raya ini adalah milik ALLAH semata,jika semua itu ada  di diri kita,hanyalah semata titipan-NYA,Dan jika menggunakannya untuk membela agama ALLAH,Itu adalah hal yang seharusnya kita lakukan,seperti mengembalikan sesuatu pada pemilik-NYA,namun ALLAH menjanjikan syurga bagi hamba-NYA yang bertaqwa,kata saya.
  • Denyut nadi yang sedari tadi diam,kali ini turut bicara,itu karena ALLAH Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,bahkan jika tak ada janji syurga dari ALLAH sekalipun,wajib bagi kita untuk berjuang di jalan-NYA,sebab begitu banyak nikmat yang telah Ia limpahkan pada kita,sekarang katakan padaku,nikmat ALLAH yang mana yang dapat engkau dustakan? tanyanya,saya mulai mengira-ngira nikmat mana yang dapat saya dustai,saya memiliki orang tua yang begitu perhatian dan baik hati,menyayangi saya dengan tulus,dahulu mereka berkorban hanya untuk membahagiakan sayadan saudara-saudara saya,saya memiliki saudara yang sayang dan berusaha mengisi hati saya dengan tawa,ada sahabat yang menemani saya dalam suka dan duka,bekerja dalam keriangan hati,meski sering juga saya menangis,saya selalu di beri rizky agar tercukupi,walau tak kuat saya bisa merasakan nikmatnya sehat,walaupun saya ingkar dan lalai,saya masih di beri Rahmat dan Hidayah-NYA.lantas nikmat ALLAH yang mana yang dapat saya dustai? Tidak ada bukan? kata jantung saya,aku menyertaimu dalam tiap gerakmu,aku berdetak lebih kuat jika kau mengalami perubahan perasaan,aku lemah jika kau sakit,namun tahukah kau,bahwa ALLAH jauh lebih dekat denganmu melebihi aku,sangat dekat katanya,katanya lagi,jadi DIAlah yang pantas engkau jadikan tujuan di dalam hidupmu,DIAlah akhir dari perjuanganmu,jika kau tanamkan itu,semboyanmu kini harus kau ubah menjadi Hidup adalah JIHAD.jika kami boleh berterus terang,kata tulang,kami tak pernah mau menyertaimu ketika kau berbuat maksiat,karena kami mencintai ALLAH ,DIAlah Dzat pemilik kami,namun hawa nafsumu membuat kami mendurhakai-NYA ,tolonglah gunakan kami di jalan-NYA,karena itulah kami cita-citakan,lanjut jantung.Benar,kami tak perduli betapa menderitanya kami,jika itu karena ALLAH kami siap,kami milik-NYA dan kami ingin kembali pada-NYA dalam keadaan fitrah,aku ingin berhenti kau hirup karena engkau Syahid,kata nafas,kami juga,kata darah,jantung,dan nadi,jika perlu kami tak menyesal jika harus terpisah dari ragamu,kata tangan dan kaki,Hati tersenyum,kau juga milik ALLAH,karena itu kau harus seperti kami dan kami ingin menjadi saksi bagimu kelak,ketika ALLAH meminta pertanggung jawabanmu,kami ingin menjadi bagian dari perjuanganmu,mereka serentak berkata.
  • Saya tersenyum,ya,mulai saat ini saya akan berusaha menjadikan hidup saya sebagai JIHAD.Ya ALLAH,izinkan saya mencintaiMU di atas apapun dan dalam keadaan apapun,Ya ALLAH,cabutlah nyawa saya dalam keadaan cinta dan taqwa padaMU.Dalam kerapuhan saya.............dalam ketidak berdayaan saya menghadapi cobaan yang ENGKAU berikan pada saya,...ternyata tidak ada apa-apanya di banding nikmatMU yang di berikan terhadap saya,yang begitu banyak sehinggga hal kecil apapun menjadikan diri kita itu berguna,........RAAB,ampunilah saya,....karena selama ini saya terlalu banyak memohon padaMU,......... yang seharusnya saya bersyukur atas nikmatMU,mudah-mudahan kami slalu ada dalam perlindungan dan bimbinganMU
  • Amiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiin Ya Robbal alamin

Tuesday, October 9, 2012

Mulia Mana Wanita Muslim VS Wanita Barat

Islam memposisikan wanita dengan begitu mulia, karena generasi gemilang akan lahir dari rahimnya. Dalam masa kebudayaan jahiliyah sebelum datangnya Islam, wanita dianggap sangat rendah dan hina bahkan tidak sedikit ketika lahir anak perempuan dikubur hidup-hidup. Mereka memandang wanita dengan sebelah mata, bahkan dianggap hina dan tidak berharga. Setelah datangnya Islam, terbukti wanita dapat menghirup udara bebas dan diberikan tugas kepadanya dalam membangun sebuah masyarakat yang berbudaya dan beradab.
Maka kita tidak heran bahwa dalam Islam tidak ada yang namanya diskriminasi terhadap wanita, tidak ada tuntutan emansipasi wanita dan feminisme. Karena sejak pertama kali di wahyukannya agama Islam kemuka bumi, Islam selalu menjunjung tinggi harkat dan martabat kaum wanita. Dan syariat Islam yang seperti ini tidak akan luntur di makan zaman, tak akan pernah berevolusi maupun revolusi.
Hal ini berbeda dengan budaya barat dewasa ini yang merupakan produk dari zaman yang akan selalu berubah dan bergeser karena kikisan sang waktu. Sedangkan Islam meletakkan antara pria dan wanita sesuai dengan kodrat masing-masing. Maka dari itu tidak ada alasan bagi kaum muslimin baik pria, wanita, tua, muda untuk menuntut lebih dari yang di gariskan oleh sang maha menetapkan, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Allah-lah yang maha mengetahui rahasia-rahasia di balik penciptaan mahluknya.
Bangsa barat dalam reformasi dan modernisasi, menuntut persamaan hak (emansipasi). Namun, konsep emansipasi itu sendiri yang semakin lama semakin tidak jelas, yang seharusnya emansipasi membebaskan wanita dari belenggu perbudakan, tetapi malah menjerumuskan wanita ke jurang perbudakan yang baru. Pada masyarakat kapitalis, wanita dieksploitasi dan menjadi komoditas yang dapat di perjual belikan kepada umum,lihat saja tayangan iklan-iklan di media informasi di sekeliling kita. Di dalam masyarakat yang bebas, wanita di didik budaya permisif yang lepas dari nilai-nilai normatif hanya untuk kepentingan industri. Di luar konsep Islam mereka menuntut kesamaan, kebebasan dan hak asasi manusia, padahal mereka malah mengabaikkan kodrat dan martabat wanita yang seharusnya dijunjung tinggi. Secara tidak langsung mereka menganggap bahwa Islam bersikap diskriminasi terhadap wanita. Padahal Islam menempatkan wanita tidak melebihi atas apa yang telah di gariskan dan dikodratkan sebagai wanita.
Umar bin Khathab pernah berkata, “Pada masa jahiliyah, wanita itu tak ada harganya bagi kami. Sampai akhirnya Islam datang dan menyatakan bahwa wanita itu sederajat dengan laki-laki.” Persamaan yang dimaksudkan oleh Islam ini meliputi segala aspek, termasuk masalah hak dan kewajiban. Hal ini sangat dipahami oleh para wanita Islam dan oleh karenanya mereka pegang ajaran Islam dengan sangat kuat.

Tidak jarang ada pernyatraan dari ummat Islam berkata, “Jalan menuju kebangkitan sudah sangat jelas, yaitu dengan cara kita menempuh jalan yang telah ditempuh bangsa Eropa. Lalu, agar kita dapat berubah seperti mereka, maka segala apa yang ada pada mereka harus kita ambil. Pahit, manis, kebaikan, keburukan dan termasuk hal-hal yang disukai juga yang dibenci (Toha Husein, masa depan pengetahuan di Mesir)
Hancurnya Keluarga
Masalah selanjutnya bukan lagi hanya seputar masalah wanita dan hak-hak mereka saja. Akan tetapi, menjadi meluas dan melebar meliputi bagaimana membangun rumah tangga seperti cara dan gaya yang sesuai dengan peradaban Barat. Berkembanglah pemikiran bahwa membina rumah tangga tak perlu lagi memperhatikan aturan dan nilai-nilai. Peran “ibu” tak lagi menjadi tugas wanita saja. Peranan itu sebenarnya adalah tanggung jawab masyarakat. Bahkan, peran itu dapat dilakukan oleh wanita dan laki-laki.
Sebenarnya, di Eropa pemikiran dan ideologi ini melahirkan banyak permasalahan. Sebagai contoh di Perancis tercatat 53% anak-anak yang lahir tak memiliki bapak yang jelas. Di banyak negara Eropa semakin berkembang trend enggan mempunyai anak bahkan enggan untuk menikah. Hubungan laki-laki dan wanita sekadar hubungan seks bebas tanpa ada ikatan, tak ada aturan yang mengikat. Dan selanjutnya mereka menuntut agar dilegalkannya aborsi sebagai dampak langsung dari merebaknya budaya seks bebas.
Hal ini juga berdampak pada meningkatnya angka kriminalitas dengan sangat tajam. Pada tahun 1998 tingkat kriminalitas di Amerika mencapai angka yang sangat fantastis. Tindakan perkosaan terjadi setiap 6 menit, penembakan terjadi setiap 41 detik, pembunuhan setiap 31 menit. Dana yang dikeluarkan untuk menanggulangi tindakan kejahatan saat itu mencapai 700 juta dolar per tahun (angka ini belum termasuk kejahatan Narkoba). Angka ini sama dengan pemasukan tahunan (income) 120 negara dunia ketiga.
Kejahatan atas wanita
Merebaknya kejahatan memberikan bahaya tersendiri buat para wanita di Eropa. Hingga PBB pada 17 Desember 1999 mengeluarkan keputusan bahwa tanggal 25 November merupakan hari anti kekerasan pada wanita. Ada banyak fakta dan data yang seharusnya diperhatikan oleh mereka yang terbuai dengan Barat. Di Eropa dan Amerika pada setiap 15 detik terjadi kekerasan atas wanita. Belum lagi jika ditambah dengan aksi pemerkosaan setiap harinya. Sehingga Amerika tercatat sebagai negara tertinggi dalam hal kekerasan terhadap wanita. Menurut catatan UNICEF, 30% kekerasan pada wanita terjadi di Amerika dan 20% di Inggris.
Belum lagi kejahatan perbudakan yang terjadi di Amerika, CNN pernah menyiarkan laporan bahwa pada tahun 2002 jutaan anak-anak dan wanita dijual belikan di Amerika setiap tahunnya. Lebih dari 120 ribu wanita berasal dari Eropa Timur dan beberapa negara miskin lainnya dikirim ke Eropa untuk dipekerjakan sebagai budak seks. Lalu lebih dari 15 ribu wanita yang mayoritas berasal dari Meksiko dijual ke Amerika untuk dipekerjakan di komplek-komplek pelacuran.
Bisnis haram ini bahkan merenggut kemerdekaan anak-anak di dunia, hingga Sidang Umum PBB pada pertemuan yang ke 54 mengeluarkan keputusan pada 25 Mei 2000 tentang hak anak. Sebuah keputusan yang mendesak agar dilakukan pencegahan agar tak lagi terjadi jual beli anak apalagi kemudian dipekerjakan sebagai budak seks seperti yang terdapat pada jaringan internet.
Memperhatikan apa yang terjadi di Barat, seharusnya membuat kita berfikir panjang jika ingin menempuh jalan yang telah ditempuh oleh Barat. Dalam penjara Israel terdapat sekitar 100 tawanan wanita. Mengapa Barat diam saja atas semua ini. Di Palestina terdapat lebih dari 250 wanita yang telah menemui syahidnya, belum lagi para wanita yang menderita luka-luka pasca intifadhah. Adapun tentang wanita di Irak, cukuplah bagi kita apa yang disampaikan oleh organisasi dunia pada 22 Februari 2005 yang mengatakan bahwa kondisi wanita Irak tak jauh berbeda dengan kondisi manakala mereka berada di bawah pemerintahan Sadam Husein.
Hal ini menjelaskan bahwa kemerdekaan dan kebebasan wanita seperti yang digemborkan Amerika sama sekali tak menyentuh mereka. Bahkan kondisi mereka di bawah penjajahan Amerika jauh lebih buruk lagi. Mereka menerima perlakuan kasar, dianiaya, dilecehkan bahkan diperkosa.
Penutup
Maka, sebagai umat Islam marilah kita lebih jernih berpikir, dan tidak terpengaruh argumentasi bahwa feminisme dan kesetaraan gender dapat menjadi solusi dari permasalahan kaum perempuan di dunia Islam, semisal kekerasan rumah tangga (domestic violence) , women trafficking, dan permasalahan sosial lainnya. Sampai saat ini, negara-negara Barat tidak pernah bisa membuktikan bahwa mereka berhasil mengatasi problematika sosial tersebut. Justru sebaliknya, kehancuran moral telah merusak tatanan sosial masyarakat Barat, gerakan feminis kemudian disalahkan karena dianggap telah mengubah perempuan menjadi makhluk-makhluk gila karir dan menjauhkan mereka dari kehangatan keluarga. Wallahu a’lam bishshawab.

Wednesday, October 3, 2012

MAKNA FILOSOFIS DOA


Terlepas dari pahala doa dan terlepas dari efek jawaban terhadap jawaban yang dihasilkan oleh doa – dengan menganggap bahwa doa itu tidak hanya sekadar pengucapan atau pembacaan dan telah menjadi satu dengan hati sehingga ruhani manusia membumbung naik – doa itu sendiri mengandung aspek ruhani yang sangat luhur. Seakan-akan manusia melihat dirinya sendiri tersampul cahaya, dan hanya pada saat itulah ia memahami arti kesucian dari permata kemanusiaan. Lalu ia memahami betapa rendahnya, betapa hina dan aibnya urusan-urusan kecil yang menyibukkan dan mengganggu dia pada saat-saat lainnya.
Apabila seseorang meminta sesuatu kepada selain Allah maka ia merasa hina dina dan aib. Namun ketika memohon kepada Yang Mahatinggi, ia merasakan suatu perasaan kekuatan dan kemuliaan. Oleh karena itu, maka doa adalah adalah pencarian dan yang dicari sekaligus. Para pecinta Allah tidak menyukai sesuatu lainnya lebih daripada doa. Mereka mempercayakan seluruh hasrat dan keinginannya kepada Yang Tercinta yang sesungguhnya. Dan mereka menekankan pentingnya lebih besar kepada pencarian, hasrat, dan doa lebih dari yang mereka inginkan dan mereka hasratkan.
Mereka tidak pernah merasa kepayahan, dalam kata-kata Imam ‘Ali as kepada Kumail bin Ziyad An-Nakha’i : "pengetahuan dan pengertian akan Kebenaran yang selengkapnya tercurah kepada mereka dan mereka mengalami kegembiraan akan kepastian dan kebenarannya. Orang-orang ini merasa bahagia dengan apa yang ditakuti oleh manusia-manusia berjiwa duniawi dan oleh mereka dipandang sebagai yang tidak menyenangkan dan menyulitkan, dan orang-orang ini merasakannya sebagai menyenangkan. Mereka menjadi mengenal apa yang membuat orang-orang yang tidak mengenalnya lari, dan bertemu dengan orang-orang yang badan-badan dan jiwanya terhubungkan dengan dunia kerajaan yang tinggi."
 
 
Jalan dari Hati kepada Tuhan
Setiap orang mempunyai jalan menuju Tuhan dari hatinya, suatu pintu pada setiap hati yang menuju Tuhan. Dalam keadaan-keadaan sulit dan sukar, ketika tidak nampak adanya harapan atau sesuatu jalan apapun lainnya, bahkan orang-orang yang paling jahat sekalipun akan menyadari dan meminta pertolongan Tuhan. Ada suatu kecenderungan dalam hakikat wujud manusia yang kadang-kadang diliputi dosa dan kekejaman. Pada saat-saat sulit dan terdesak, penghalang ini tersingkir dan naluri alami manusia dengan sendirinya menjadi hidup.
Pada suatu saat orang bertanya kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq tentang bukti adanya Tuhan. Imam as bertanya kepadanya, "Pernahkah Anda menumpang kapal ?" Orang itu mengiakannya.
Imam Ja’far bertanya lagi, "Pernahkah terjadi badai yang mengancam tenggalamnya kapal itu sehingga seluruh harapan Anda putus sama sekali ?" Orang itu mengiakan, "Sesungguhnyalah peristiwa semacam itu telah terjadi."
"Pada saat-saat seperti itu, " kata Imam Ja’far, "hati Anda terpusat ke suatu titik dari mana Anda mengharapkan suatu pertolongan dan perlindungan, Anda memohon kepada ‘titik’ itu untuk menyelamatkan Anda ?" Orang itu pun mengiakannya.
Imam Ja’far menunjukkan kepadanya bahwa Tuhan, melalui hatinya sendiri : "dan pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tiada memperhatikannya ?" (QS 51 : 21). Kecenderungan dan perhatian dalam wujud manusia inilah yang mengarahkan dia kepada Yang Mahakuasa. Kekuatan yang mahabesar yang berada di atas jalan-jalan dan sebab-sebab yang dangkal, pada suatu saat ketika segala jalan lainnya telah musnah, merupakan bukti adanya Kekuasaan itu. Apabila tidak ada kekuatan semacam itu, maka tidak akan ada kecenderungan itu.
Tentu saja ada suatu perbedaan antara kecenderungan yanga ada dalam wujud suatu pribadi dengan pribadi yang sepenuhnya menyadari akan hal itu dan mengetahui tujuan dari kesadaran itu. Hasrat dan keinginan menyusu terdapat pada bayi sejak awal mula kehidupannya. Apabila saja ia merasa lapar dan timbul kebutuhan itu pada dirinya, hasrat dan keinginannya itu dimotivasikan dan membimbingnya untuk mencari puting susu ibunya yang belum pernah dilihatnya sebelum ini, tidak dipahami dan tidak dikenalnya. Kecenderungan itu sendiri membimbingnya, mendorongnya untuk membuka mulutnya untuk mencari makanannya, apabila ia tidak mendapatkannya maka ia pun menangis. Menangis itu sendiri adalah meminta pertolongan dari ibunya, si ibu yang masih asing baginya dan eksistensinya belum disadarinya. Si bayi itu sendiri tidak mengetahui tujuan di balik kecenderungannya, sasaran dari tangisannya. Ia tidak mengetahui sebab dari kecenderungan yang muncul pada dirinya. Ia tidak mengerti akan sistem pencernaan dan bahwa sistem pencernaan itu membutuhkan makanan. Si bayi itu malah tidak mengetahui bahwa ia menghendaki makanan. Ia tidak menyadari bahwa sebab di balik tangisannya itu adalah pemberitahuan kepada ibunya, bahwa ibu yang tidak dikenalnya itu, tetapi yang secara berangsur-angsur akan dikenalnya, tentang lapar dan kebutuhannya itu.
Dalam hal manusia ia mempunyai kecenderungan untuk mencari Tuhan untuk berdoa dan memohon kepada Tuhan yang belum pernah dilihatnya, kita berada dalam posisi yang sama seperti si bayi yang mencari tetek ibunya yang belum pernah dilihatnya dan menangis kepada ibunya yang tidak dikenal dan tidak diketahuinya.
"Sesungguhnya kita adalah dari Allah dan kepada-Nyalah kita akan kembali (QS 2 : 156).
"Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan" (2 : 210)
Tentu saja sekiranya buah dada si ibu dan susu yang sesuai dengan perut si bayi tidak ada, maka instinknya tidak akan membawa dia ke arah itu. Ada suatu mata rantai hubungan antara instink ini dan adanya makanan itu. Hal yang sama seperti itu pun berlaku dengan segala macam kecenderungan yang tertanam dalam wujud diri tanpa suatu maksud dan tujuan. Sebaliknya, segala kecenderungan itu tertanam karena adanya kebutuhan dan pemenuhan atas kebutuhan itu.
 
Isolasi yang Dipaksakan dan Penyendirian Karena Pilihan
Manusia mungkin mencari Tuhan dalam dua situasi. Salah satu daripadanya ialah ketika segala jalan dan usaha telah terputus dan dia terlibat kesulitan dan kemudaratan, dan yang lainnya ialah ketika ruhaninya membumbung dan dia memisahkan dirinya sendiri dari jalan-jalan dan sebab-sebab itu. Pada saat-saat kemudaratan ketika ia tidak memperoleh jalan sendiri, manusia secara otomatis bergerak menuju Tuhan, tanpa perlu diminta untuk berbuat demikian. Namun ini bukanlah suatu penyempurnaan dari jiwa manusia itu sendiri, penyempurnaan dari jiwanya terjadi apabila ia dengan sengaja memutuskan dirinya dari hubungan dengan yang duniawi dan membumbung ke atas [yakni penyendirian karena pilihan 
 
Syarat-syarat Doa
Perbuatan berdoa mempunyai persyaratan. Syarat yang pertama ialah bahwa hasrat dan kehendak sesungguhnya muncul dalam eksistensi manusia itu sendiri, sehingga setiap unsur dalam dirinya menjadi manifestasi hasrat dan apa yang dikehendakinya menjadi suatu kebutuhan yang mendesak. Tepat ketika suatu kebutuhan muncul pada suatu bagian dari badan manusia, maka organ-organ dan anggota-anggota badan yang lain mulai bekerja untuk memenuhi kebutuhan itu, bahkan mungkin suatu organ mengurangi sebagian besar kegiatannya karena adanya kebutuhan yang muncul pada bagian tubuh yang lainnya, seperti umpamanya, ketika haus menguasai manusia; efek kehausan itu muncul di pipinya sementara kerongkongannya, hati, perut, bibir, dan lidahnya semuanya menyerukan "Air !", sehingga seseorang yang tidur dalam keadaan haus semacam itu akan memimpikan air, sehingga kebutuhan ruhani manusia itu – yang merupakan bagian dari suatu dunia penciptaan – adalah sama halnya dalam hubungan dengan seluruh dunia. Ruhani manusia adalah bagian dari dunia eksistensi, dan apabila suatu hasrat dan keinginan muncul dalam dirinya, sistem yang agung dari dunia penciptaan tidak akan meninggalkannya.
Ada terdapat suatu perbedaan besar antara sekadar mengucapkan suatu doa dan permohonan doa yang sesungguhnya. Hasrat dan kebutuhan haruslah sungguh-sungguh dan sebenar-benarnya muncul dari hati manusia itu. Seorang penyair telah mengatakan :

Apabila tumbuh, tumbuh dari kebutuhannya
Maka si pencari mendapatkan
Apa yang dicarinya
Barangsiapa menjadi pencari,
Untuk mendapatkan tujuan
Bahannya sakit
Dan prinsipnya ridha
Apabila ada obat bagi
Kemalangannya
Ke sanalah perginya
Apabila ada bumi yang rendah
Ke sanalah air mengalir
Jarang mencari air
Dan haus diperoleh
Sehingga apabila air di dalam
Wujudmu
Menggeledah dari atas dan
Bawah. Seperti itulah Alquran
Mengatakan kepada kita :
....siapakah yang
memperkenankan doa
orang kecemasan di dalam
kebutuhan ?" (QS 27 : 62)
 
Iman dan Keyakinan Akan Dikabulkan
Suatu syarat doa lainnya ialah iman dan keyakinan. Iman akan rahman dan rahim yang tiada batasnya dari Yang Mahaesa, iman bahwa tidak ada rintangan bagi-Nya untuk melimpahkan rahmat-Nya, iman bahwa pintu Ridha Allah tidak pernah tertutup bagi hamba-hamba-Nya dan bahwa kekurangan dan kesalahan terletak pada makhluk. Telah disebutkan dalam suatu hadis : "Apabila Anda berdoa memohon sesuatu, maka anggaplah bahwa apa yang Anda hasratkan itu sesungguhnya terletak di balik pintu."
Imam Zainal ‘Abidin dalam doanya yang dikenal sebagai Doa Abi Hamzah Ats-Tsimali yang membumbung dengan harapan dan keyakinan serta yang didoakannya pada waktu sahur menjelang subuh dalam bulan Ramadhan yang penuh berkah, berkata kepada Tuhan :
Ya Allah, aku melihat jalan-jalan
Permohonan kepada-Mu terbuka dan terbentang
Aku melihat pengairan dari
Harapan dalam diri-Mu
Berlimpah-limpah
Aku melihat pertolongan dari
Rahmat-Mu
Dan keridhaan-Mu
Oleh orang yang mengharap
Pada-Mu
Untuk diperkenankan, dan
Melihat pintu-pintu doa terbuka
Bagi orang yang berseru
Kepada-Mu
Dan aku yakin bahwa Engkau
Sedia menjawab doa
Orang-orang yang berdoa
Dan memberikan perlindungan
Kepada yang mencarinya
Dan aku tahu dengan yakin,
Bahwa mencari pertolongan
Dalam Kemahakuasaan-Mu
Dan dipuaskan dengan keputusan-Mu
Mencukupi kekurangan
Dari kemelaratan si melarat
Dan penindasan si penindas
Kesesuaian Sistem Penciptaan dan Sunatullah
Suatu persyaratan doa lainnya adalah bahwa doa itu tidak boleh bertentangan dengan sistem penciptaan dan sunnah Ilahi. Doa adalah untuk mencari pertolongan dan bantuan agar manusia itu mencapai tujuan-tujuan yang telah dispesifikasikan baginya dalam kerangka penciptaan dan dalam sunatullah yang sejalan dengan hukum alam dan penciptaan. Apabila doa itu demikian, maka ia mengambil bentuk kebutuhan yang alami dan orang yang berdoa itu ditolong dan dibantu oleh sistem penciptaan yang, karena keseimbangan dan keharmonisan yang dianugerahkan kepadanya, memeberikan rahmat dan kebaikan apabila ada kebutuhan. Namun, sekiranya meminta dan menuntut suatu hal tertentu bertentangan dengan tujuan penciptaan dan sunatullah, seperti umpamanya meminta hidup abadi di dunia ini, maka permintaan semacam itu bukanlah sesungguhnya doa, dan tidak akan dikabulkan.
 
Sesuai dengan Keadaan Orang yang Berdoa
Satu persyaratan lainnya ialah bah situasi-situasi lainnya dari kehidupan orang yang berdoa itu seharmoni dengan tujuan-tujuan penciptaan dan sunnah Allah. Hati harus suci dan bersih, nafkah hidupnya harus diperoleh dengan jalan yang halal, dan orang yang berdoa itu tidak boleh berbeban dengan apa yang diperolehnya dari manusia secara haram. Imam Ja’far Ash-Shadiq as mengatakan : "Apabila seseorang di antara kamu menghendaki agar doanya dikabulkan, ia harus membersihkan pekerjaannya dan membersihkan dirinya dari apa yang diperolehnya secara tidak halal dari manusia. Karena Allah tidak menerima doa dari seorang hamba yang mengandung sesuatu yang diperoleh menjadi miliknya dari orang lain secara tidak halal."
 
Keadaan si Pemohon Bukanlah sebagai Akibat Dosanya
Salah satu syarat lainnya lagi ialah bahwa keadaan orang yang berdoa itu, yang diharapkannya akan berubah dan dipulihkan, bukanlah sebagai akibat yang langsung dari pelanggarannya atas tanggung jawab dan kewajibannya. Dengan kata lain, keadaan dari mana si pendoa itu mengharapkan kelepasannya bukanlah hukuman dan akibat yang logis dari dosa-dosanya; karena apabila demikian halnya maka keadaannya tidak akan berubah sampai dia bertobat dan memperbaiki dirinya. Umpamanya amar makruf nahi munkar adalah suatu kewajiban. Kesejahteraan dan kerusakan masyarakat sepenuhnya tergantung pada terlaksana atau tidaknya prinsip ini. Konsekuensi yang logis dari sikap mengabaikan amar makruf nahi munkar ini ialah terbukanya jalan bagi para penjahat untuk menguasai masyarakat.
Apabila orang lalai memenuhi kewajiban ini dan tertimpa akibat yang logis dari dosa karena kelalaian mereka, kemudian mereka hendak melepaskan diri dari penderitaannya melalui doa, maka hal itu adalah sesuatu yang mustahil. Satu-satunya jalan dalam hal ini ialah bertobat dan kembali lagi kepada prinsip amar makruf nahi munkar dengan segala kemampuannya. Dalam hal ini secara berangsur-angsur mereka akan mencapai tujuannya serta maksud yang didambakannya. "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (13 : 11).
Sunnah Allah berarti bahwa sementara orang tidak menghendaki untuk mengubah kondisi mereka sendiri dalam hal-hal yang berhubungan dengan mereka, maka Tuhan tidak akan mengubah kondisi-kondisi itu bagi mereka. Dikatakan dalam suatu hadis yang sahih : "Kamu harus menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran atau (apabila tidak demikian maka) Allah pasti akan menempatkan kejahatan itu di antara kamu, lalu orang-orang yang baik di antara kamu akan berdoa tetapi doa mereka tidak akan dikabulkan." Sesungguhnya doa seperti itu juga bertentangan dengan sistem penciptaan dan sunnah Allah.
Hal yang sama juga berlaku apabila seorang manusia hanya semata-mata berdoa dan tidak berusaha dengan tindakan. Orang ini pun melakukan sesuatu yang bertentangan dengan sistem penciptaan dan sunatullah. Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib as mengatakan : "Orang yang berdoa tapi tidak berbuat adalah ibarat orang yang hendak memanahkan anak panah dengan busur tanpa tali pelentingnya." Ini berarti bahwa tindakan dan perbuatan saling mengisi dan doa tanpa tindakan tidaklah efektif.
 
Doa Tidak Boleh Dijadikan Pengganti Tindakan
Suatu syarat lain ialah bahwa doa itu haruslah merupakan manifestasi kebutuhan yang sesungguhnya, dalam keadaan di mana manusia tidak mempunyai jalan untuk memperoleh apa yang didambakannya, ketika ia tidak berdaya dan tidak berkemampuan. Apabila Allah telah menganugerahkan kepada manusia kunci bagi kebutuhannya, namun ia menyia-nyiakan rahmat itu dan tidak hendak menggunakan kunci itu lalu memohon kepada Tuhan untuk membukakan pintu itu dengan kunci yang telah ada di tangannya sendiri dan membebaskannya dari beban untuk menggunakan kunci itu, maka tentu saja doa semacam itu tidak patut dikabulkan.
Doa-doa seperti itu harus pula dimasukkan dalam kategori doa yang menentang sistem penciptaan. Doa adalah untuk mendapatkan kemampuan, dan berdoa ketika Tuhan telah menganugerahkan kemampuan yang dikehendaki itu kepada manusia, samalah halnya dengan berusaha untuk mendapatkan apa yang sesungguhnya telah diperolehnya. Hal itu adalah ibarat orang yang berjalan di sepanjang tembok miring yang akan runtuh sambil mendoakan agar tembok itu tidak runtuh dan menimpanya; ia melihat tembok itu hendak runtuh, tetapi ia tidak hendak menyingkir dari situ, sambil terus berdoa supaya tembok itu tidak runtuh dan menimpanya. Atau, ibarat orang yang duduk-duduk di dalam rumah, tidak mau bekerja, dan terus berdoa kepada Tuhan untuk memberikan nafkah kepadanya. Dalam hal-hal seperti ini doa itu tidak ada gunanya dan kosong dari kejiwaan. Hal-hal semacam ini disebutkan di sini sebagai contoh-contoh untuk saat-saat ketika seorang manusia mampu mencapai tujuan dan maksudnya melalui tindakan, kebijaksanaan, dan penalaran pikiran, namun hendak menggantikan tindakan dan usaha dengan doa. Ini tidak benar. Dalam sistem penciptaan, doa bukanlah pengganti usaha dan tindakan, tetapi sebagai pelengkap yang melengkapi usaha dan tindakan.
 
Nikmatnya Doa
Orang-orang yang menikmati kesenangan berdoa dan membebaskan diri dari segala ciptaan, untuk bergerak ke arah Al-Khaliq (Pencipta), tidak akan mengenal kebahagiaan dan nikmat yang lebih besar dari itu. Bagi orang-orang seperti ini doa mencapai puncak kekuatan, kemuliaan, keluhuran, dan berkat. Hal itu meliputi orang yang berdoa itu dalam kelapangan dan ia melihat bahwa suatu keridhaan Ilahi yang istimewa meliputi dirinya. Ia menyaksikan akibat dari doanya dikabulkan : Allah, anugerahkanlah kiranya kepada saya nikmat yang sebaik-baiknya atas apa yang saya keluhkan kepada-Mu, dan karuniakanlah kiranya kepada saya merasakan rasa kemurahan dalam anugerah-Mu atau apa yang saya mohonkan daripada-Mu.
Orang-orang yang bijaksana mengatakan bahwa ada perbedaan antara pengetahuan yang yakin (ilmul yaqin), penglihatan yang pasti (‘ainul yaqin) dan kepastian yang sesungguhnya (haqqul yaqin). Mereka mengajukan contoh sebagai berikut : bayangkanlah akan api; ada saatnya ketika Anda melihat akibat dari api. Umpamanya, Anda melihat gumpalan asap. Anda tahu bahwa di sana ada api darimana asap itu membumbung ke langit; ini pengetahuan yang pasti, ‘ilmul yaqin. Pada saat lainnya, Anda melihat api itu sendiri dari dekat; ini penglihatan yang pasti dan lebih tinggi tarafnya dari ‘ilmul yaqin, karena ini berarti penyaksian sendiri. Pada saat yang lain Anda berada demikian dekatnya kepada api itu sehingga Anda merasakan hangat dan panasnya; ini namanya haqqul yaqin.
Manusia mungkin dengan sepenuhnya menyadari akan Tuhan serta percaya dengan mengakui Ada-Nya, tetapi dalam kehidupannya sehari-hari ia tidak berhasil melihat kenikmatan-kenikmatan yang istimewa yang ada saat-saatnya dianugerahkan Tuhan kepada hamba-hamba-Nya. Ini tingkatan yang dinamakan tingkat ‘ilmul yaqin. Tetapi ada saat-saatnya ketika ia sesungguhnya menyaksikan efek-efek dari Tauhid dan ia melihat doa-doanya terkabul. Ia percaya dan berandal kepada Tuhan, ia menolak kepercayaan kepada yang lain kecuali Tuhan, dan sepanjang hidupnya ia melihat efek-efek dari keyakinan dan kepercayaannya. Singkatnya, ia menyaksikan efek-efek Tauhid (Ketuhanan Yang Mahaesa), inilah ‘ainul yaqin. Hamba-hamba Allah yang beruntung mencapai tahap ini, yang yakin dan percaya kepada Allah dan menyaksikan efek-efek dari doa-doanya. Mereka merasakan kenikmatan-kenikmatan yang sangat tinggi yang sukar untuk kita bayangkan. Tahap yang lebih tinggi tentu saja ialah apabila orang yang berdoa itu melihat dirinya sendiri mempunyai kontak yang langsung dengan Hakikat Ilahi. Sesungguhnya ia tidak lagi melihat dirinya sendiri, ia melihat tindakan itu sebagai Tindakan-Nya, atribut-atribut itu sebagai Atribut-Nya, dan, singkatnya, ia melihat Tuhan dalam segala sesuatu.
Apabila seorang manusia mempelajari suatu kerajinan (craft), belajar ilmu pengetahuan dan teknologi, kemudian setelah belajar selama bertahun-tahun dengan sakit dan susah payahnya, ia melihat untuk pertama kalinya hasil karyanya – umpamanya ia melihat pasien yang disembuhkannya, bangunan yang didirikan sesuai dengan perhitungannya – maka ia akan merasa senang. Ia merasakan suatu kebanggaan dalam dirinya, dan ini merupakan suatu bentuk kenikmatan yang dirasakan apabila seorang manusia melihat hasil usahanya sendiri.
Alangkah bahagianya seorang manusia apabila ia menyaksikan hasil dari imannya ! Apabila ia melihat kenikmatan yang khusus dari Allah ! Kehormatan yang dirasakan seorang manusia karena berhasil di dalam jalan Tauhid ! Sungguh kenikmatan dan kebesaran hati yang dialami dalam keadaan seperti itu adalah seribu kali lebih besar, lebih nikmat, dan lebih manis dibanding dengan keadaan bagaimanapun juga. Semoga Allah memandang kita sebagai yang patut berdoa dan memohon kepada-Nya untuk menikmati manfaat dari kemajuan ruhani yang suci itu.

Monday, October 1, 2012

DEFINISI DAN ARTI DI BALIK ALHAMDULILAH




Apa arti alhamdulillah? Apa perbedaan hamd dengan syukr? Mengapa manusia harus memuji Allah?
Alhamdulillah artinya segala puji bagi Allah. Kalimat ini terdiri dari 3 kata, yaitu: alhamdu, li, dan Allah. Hamd artinya pujian, penambahan al bermakna untuk semua hal sehingga alhamdu diartikan segala puji dan li bermakna pengkhususan bagi Allah. Kalimat alhamdulillah disebut sebanyak 22 kali di dalam al Qur’an, beberapa diantaranya terdapat dalam surat: Al Fatihah/1:1, Al An’am/6:45, dan Yunus/10:10.
Kata hamd(pujian) berbeda dengan syukr(terima kasih), pujian diberikan karena sesuatu memang memiliki kelayakan untuk dipuji. Sementara terimakasih disampaikan karena ada sesuatu yang diterima oleh orang yang mengucapkan terima kasih. Berikut ini beberapa konteks penggunaan kata alhamdulillah dalam Al Qur’an:
Al Fatihah/1:1
Segala puji bagi Allah rabb (Tuhan) semesta alam
. Redaksi seperti ini kita dapati pula ketika Allah menjelaskan bahwa orang-orang dzalim dimusnahkan sampai ke akar-akarnya (Al An’am/6:45), sebagai penutup doa ahli surga (Yunus/10:10), dan sebagai akhir pernyataan tentang keselamatan/kemenangan rasul dan orang yang mengikutinya (Ash Shaffat/37:182)(lihat juga surat Az Zumar/39:75 dan Al Mukmin/40:65). Walaupun redaksi ayat di atas merupakan pernyataan, namun kalimat itu mengandung makna keharusan memuji Allah sebagai rabb alam semesta.

Al An’am/6:1

Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka
. Pada ayat ini Allah mengungkapkan karunianya yang berupa fasilitas kehidupan beserta potensi yang ada di dalamnya. Jika manusia pernah memuji manusia lain karena kedermawanannya, maka seharusnya manusia itu memuji Allah karena Allah-lah dzat memberi fasilitas manusia berdasar kehendakNya sendiri. Pujian ini seharusnya juga kita ucapkan ketika kita merasa terlepas dari bahaya (Al Mukminun/23:28), ketika sesuatu yang kita inginkan terjadi (Ibrahim/14:39) atau ketika kita memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki manusia pada umumnya (An Naml/27:15)

Al Isra’/17:111

Dan katakanlah: Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaanNya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya
. Jika ada manusia yang memuji seorang raja karena kekuasaan yang dimiliki raja itu, maka seharusnya dia lebih memuji Allah swt karena kekuasaan Allah tidak ada yang menyerupainya. Berbeda dengan kekuasaan raja yang berada dalam serba kerelatifan.

Al Kahfi/18:1

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hambaNya Al Kitab dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya.
Pada ayat ini Allah menjelaskan tentang karunia yang berupa petunjuk kehidupan. Jika kita pernah memuji penuntun orang buta sebagai orang yang baik, maka seharusnya kita memuji Allah yang telah menerangi kehidupan tanpa adanya paksaan. Pujian kepada Allah karena adanya petunjuk ini juga diungkapkan oleh penghuni surga (Al A’raf/7:43)

Saba’/34:1

Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi dan bagiNya pula segala puja di akhirat. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.
Ayat ini mengisyaratkan bahwa karunia Allah swt tidak hanya terbatas di dunia, namun juga terus berlanjut sampai hari akhirat kelak. Allah telah mengatur seluruhnya, dan menciptakan segala kelengkapan yang diperlukan untuk tegaknya sistem yang dikehendakiNya baik di dunia maupun akhirat (Fathir/35:1)

Andaikata tidak ada perintah untuk memuji Allah, namun selayaknya manusia memuji Allah. Karena apapun bentuk kekaguman manusia pada sesuatu maka selayaknya manusia terlebih dahulu mengagumi Allah Yang Maha Sempurna.


Di Balik Arti "Alhamdulillah" ?

Pasti teman-teman sering mendengar ucapan Alhamdulillah kan.
Nah, Apa artinya ?
Ya, Benar. Artinya, Segala Puji Bagi Allah.
Ucapan ini sering kita ucapkan ketika mendapat nikmat dari Allah.
Dan merupakan tanda syukur kita padaNya.

Tapi, bukan itu yang ingin saya bahas dalam tulisan ini.
Yang menjadi permasalahannya adalah...

Apakah ucapan ini hanya sebatas ungkapan rasa syukur ?
Coba sejenak kita tanyakan kepada diri kita sendiri.

Setiap kali kita mendapat pujian atau ucapan selamat dari teman-teman kita,
Kita mengucapkan "Alhamdulillah", sambil merasa BANGGA dengan pujian itu.
Kita lupa akan arti hamdalah yang sebenarnya.

Ucapan "Alhamdulillah" ialah mengembalikan segala pujian hanya kepada Allah,
Dan menetralisir perasaan bangga ataupun sombong yang dalam hati kita.
Seharusnya kita merasa malu ketika kita dipuji.
Mengapa ???
Karena pujian bukan milik kita.
Sesunguhnya pujian itu ialah milik Allah Yang Maha Terpuji


*********
Ampuni kami Ya Allah...Sungguh kami adalah hamba yang lemah.
Yang tak luput dari salah & lalai.
Bantu kami dalam bersyukur kepadaMu,
Bantu kami dalam mengingatMu,
Bantu kami dalam beribadah kepadaMu.

Alhamdulillahi Rabbil'alamiin (Segala puji hanya milik Allah Tuhan Semesta Alam).

-------------------------

Minggu, 01,oktober, 2012